Senin, 13 Januari 2014

SIRKUMSISI (KHITAN)



 SIRKUMSISI

Definisi
Sirkumsisi adalah tindakan pengangkatan sebagian/seluruh prepusium penis dengan tujuan tertentu.

Indikasi
o Agama
o Sosial
o Medis:
·      Fimosis (prepusium tidak dapat ditarik ke belakang atau tidak dapat membuka)
·      Parafimosis (prepusium tidak dapat ditarik ke depan)
·      Kondiloma akuminata
·      Pencegahan terjadinya tumor (mencegah menumpuknya smegma yang diduga kuat bersifat karsinogenik)

Kontraindikasi
o Absolut: hipospadia, epispadia
o Relatif: gangguan pembekuan darah (misalnya hemofilia), infeksi lokal, infeksi umum, diabetes melitus

Komplikasi
Perdarahan, hematoma, infeksi

Peralatan (minimal)
o Gunting jaringan 1 buah
o Klem arteri lurus 3 buah
o Klem arteri bengkok 1 buah
o Pinset anatomis 1 buah
o Pemegang jarum (needle holder) 1 buah
o Jarum jahit kulit 1 buah

Perlengkapan
o Kapas
o Kassa steril
o Plester
o Kain penutup steril yang berlubang di tengahnya (duk)
o Semprit 3 ml atau 5 ml
o Benang plain cat gut ukuran 3.0
o Sarung tangan steril
o Larutan NaCl 0.9% atau aqua destilata

Obat-obatan
o Lidokain HCl 2% (tanpa campuran adrenalin)
o Larutan antiseptik: larutan sublimat, povidon iodine 10%, dan alkohol 70%. .
o Salep antibiotik (kloramfenikol 2% atau tetrasiklin 2%)
o Analgetik oral (antalgin atau parasetamol)
o Antibiotik oral (ampisilin/amoksisilin/eritromisin)
o Adrenalin 1:1.000

Tahap-tahap Sirkumsisi
1. Persiapan operasi
1.    Persiapan pasien. Sebelum dilakukan sirkumsisi, kita tentukan tidak ada kontraindikasi untuk melakukan tindakan sirkumsisi. Hal ini diketahui dengan melakukan anamne­sis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis ditelusuri:
o Riwayat gangguan hemostasis dan kelainan darah
o Riwayat alergi obat, khususnya zat anestesi lokal, antibiotik, maupun obat lainnya
o Penyakit yang pernah/sedang diderita, misalnya demam, sakit jantung, asma
Pada pemeriksaan fisis dicari:
o Status generalis: demam, tanda stres fisik, kelainan jantung dan paru
o Status lokalis: hipospadia, epispadia, atau kelainan kongenital lainnya
Berikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan dan minta persetujuan tindakan sirkumsisi dari pasien/orang tua pasien (informed concent). Bila telah siap baringkan pasien di atas meja operasi.
1.    Persiapan alat dan obat-obatan sirkumsisi
2.    Persiapan alat dan obat-obatan penunjang hidup bila terjadi syok anafilaksis.

2. Asepsis dan antisepsis
·      Pasien telah mandi dengan mem­bersihkan alat kelamin (genitalia­nya) dengan sabun
·      Bersihkan daerah genitalia dengan alkohol 70% untuk menghilangkan lapisan lemak
·      Bersihkan daerah genitalia dengan povidon iodin 10% dengan kapas dari sentral ke perifer membentuk lingkaran ke arah luar (sentrifugal)

3. Anestesi lokal
Dilakukan anestesi lokal dengan menggunakan lidokain 2%
·      Lakukan anestesi blok pada n. dorsalis penis dengan menusukkan jarum pada garis medial di bawah simfisis pubis sampai menembus fascia Buck (seperti menembus kertas) suntikkan 1,5 ml, tarik jarum sedikit, tusukkan kembali miring ke kanan/kiri menembus fasia dan suntikkan masing-masing 0,5 ml; lakukan aspirasi dahulu sebelum menyuntik untuk mengetahui apakah ujung-jarum berada dalam pembuluh darah atau tidak. Jika darah yang teraspirasi maka pindahkan posisi ujung jarum, aspirasi kembali. Bila tidak ada darah yang teraspirasi, masukanlah zat anestesi.
·      Lakukan anestesi infiltrasi di lapisan subkutis ventral penis 0,5-0,75 ml untuk kedua sisi.

4. Pembersihan glans penis
Buka glans penis sampai sulkus korona penis terpapar. Bila ada perlengketan, bebaskan dengan klem arteri atau dengan kassa steril. Bila ada smegma, bersihkan dengan kasa mengandung larutan sublimat.

5. Periksa apakah anestesi sudah efektif
Caranya dengan melakukan penjepitan pada daerah frenulum dengan klem.

6. Pengguntingan dan penjahitan
·      Pasang klem pada prepusium di arah jam 6, 11, dan 1 dengan ujung klem mencapai _+ 1,5 cm dari sulkus korona penis. Tujuannya sebagai pemandu tindakan dorsumsisi dan sarana hemostasis
·      Lakukan dorsumsisi dengan menggunting kulit dorsum penis pada jam 12 menyusur dari distal ke proksimal sampai dengan 0,3 – 0,5 cm dari korona
·      Pasang jahitan kendali dengan menjahit batas ujung dorsumsisi kulit agar pemotongan kulit selanjutnya lebih mudah dan simetris
·      Gunting secara melingkar (tindakan sirkumsisi) dimulai dari dorsal pada titik jahitan jam 12 melingkari penis, sisakan mukosa sekitar 0,5 cm. Pada sisi frenulum, pengguntingan membentuk huruf V di kiri dan kanan klem. Pemotongan harus simetris, dan sama panjang antara kulit dan mukosa
·      Atasi perdarahan yang timbul ada jepitan klem, kemudian lakukan penjahitan hemo­stasis dengan benang catgut
·      Lakukan penjahitan aproksimasi kulit dengan mukosa. Jahit kiri dan kanan glans biasanya masing-masing 2-3 simpul. Prinsipnya adalah mempertemukan pinggir kulit dan pinggir mukosa
·      Jahit mukosa distal frenulum (jam 6) dengan jahitan angka 8 atau 0
·      Setelah penjahitan selesai, gunting mukosa frenulum di sebelah distal dari jahitan sebelumnya, dan bersihkan dengan iodine 10% lalu beri salep kloramfenikol 2%

7. Pembalutan
·      Gunakan kassa yang telah diolesi salep antibiotik
·      Jangan sampai penis terpuntir saat mem­balut

8. Pemberian obat-obatan
·      Analgesik oral (antalgin atau parasetamol)
·      Antibiotik oral (ampisilin,amoksisilin, eritromisin)
·      Pemberian obat-obatan ini dapat dimulai 2-3 jam sebelum sirkumsisi

9. Anjuran pascaoperasi
·      Penjelasan kepada pasien/orang tua
·      Balutan dibuka 4-5 hari kemudian setelah membasahi perban dengan rivanol. Perhatikan adanya infeksi, pus, hematom, atau luka yang belum menutup
·      Bila ada infeksi, pemberian antibiotik diteruskan hingga hari ke-6-7

Kamis, 28 November 2013

PENGERTIAN KALIMAT

PENGERTIAN KALIMAT
            Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan ataupun asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lain. Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!); dan di dalamnya dapat disertakan tanda baca seperti koma (,), titik dua (:), pisah (-), dan spasi. Tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru pada wujud tulisan sepadan dengan intonasi akhir pada wujud lisan sedangkan spasi yang mengikuti mereka melambangkan kesenyapan. Tanda baca sepadan dengan jeda.
SUMBER : WIKIBUKU BAHASA INDONESIA

Unsur dan Pola Kalimat Dasar Bahasa Indonesia.
Kalimat adalah gabungan dari dua buah kata atau lebih yang menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir. Kalimat terdiri dari berbagai unsur seperti subyek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Sebuah kalimat dikatakan sempurna bila memiliki minimal dua unsur, yaitu subyek dan predikat.
A. Unsur Kalimat
1. Subyek (S)
Disebut juga pokok kalimat, karena merupakan unsur inti suatu kalimat.
Umumnya berupa kata benda (KB) atau kata lain yang dibendakan.
Merupakan jawaban dari pertanyaan “Siapa” atau “Apa”.
Contoh :
ü  Agnes Monika adalah seorang aktor dan penyanyi.
ü  Super Junior adalah boyband favoritku.
ü  Buku itu dibeli oleh Karta.
2. Predikat (P)
Unsur inti pada kalimat yang berfungsi menjelaskan subyek.
Biasanya berupa kata kerja (KK) atau kata sifat (KS).
Merupakan jawaban dari pertanyaan “Mengapa” dan “Bagaimana”.
Contoh :
ü  Yeti menyanyi dengan merdu.
ü  Hana memasak nasi goreng.
ü  Lili membaca majalah.
3. Objek (O)
      Keterangan predikat yang memiliki hubungan erat dengan predikat.
Biasanya terletak di belakang predikat.
Dalam kalimat pasif, objek akan menempati posisi subyek.
Ada dua macam objek, yaitu :
Objek Penderita : kata benda atau yang dibendakan baik berupa kata atau kelompok kata yang merupakan sasaran langsung dari perbuatan atau tindakan yang dinyatakan oleh subyek.
Makna objek penderita :
1. Penderita
     Contoh : Karto mencoret-coret tembok.
2. Penerima
    Contoh : Wati memakai baju Heechul.
3. Tempat
     Contoh : Super Junior datang ke Indonesia.
4. Alat
     Contoh : Kasim melempar bola ke Joko.
5. Hasil
     Contoh : Doni mengerjakan tugas bahasa Indonesia.
Objek Penyerta : objek yang menyertai subjek dalam melakukan atau mengalami sesuatu.
Makna objek penyerta :
1. Penderita.
     Contoh : Suma memberikan Surya komputer baru.
2. Hasil.
     Contoh : Redi membelikan orangtuanya rumah.
4. Keterangan (K)
       Hubungannya dengan predikat renggang.
Posisinya dapat di awal, tengah, ataupun akhir kalimat.
Terdiri dari beberapa jenis :
1. Keterangan Tempat
    Agnes akan konser di Singapura.
2. Keterangan Alat
   Dalam drama itu, Karta memukul Sule dengan panci.
3. Keterangan Waktu
   Sinta akan kembali ke Korea pukul 11 malam.
4. Keterangan Tujuan
    Kita harus rajin berolahraga agar sehat.
5. Keterangan Cara
    Mereka memperhatikan koreo dengan seksama.
6. Keterangan Penyerta
    Ali pergi bersama Doni.
7. Keterangan Similatif
    Yasin memberikan arahan kepada pemain sebagai pelatih.
8. Keterangan Sebab
    Dia sangat sukses sekarang karena giat bekerja.
5. Pelengkap (Pel.)
Terletak di belakang predikat.
Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subyek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap.
Contoh :
       1. Kiki memberikanku novel bagus.
       2. Hana menghadiahkan orangtuanya restoran baru.
       3. Mahkota itu bertahtakan mutiara.

B. Pola Kalimat
Berdasarkan pola dasarnya, Badudu (1990: 32) mengungkapkan pola :
Contoh :
1. S-P
(subyek – predikat)
    @Desi belajar
2. S-P-O
(subyek – predikat – obyek)
    @Iyan menonton drama
3. S-P-Pel
(subyek – predikat – pelengkap)
   @Mita tertawa terbahak-bahak
4. S-P-K
(subyek – predikat – keterangan)
   @Karto pergi ke Indonesia
5. S-P-O-Pel
(subyek – predikat – obyek – pelengkap)
   @Ohno sedang mencarikan ikan untuk kucingnya Nino
6. S-P-O-Pel-K
(subyek – predikat – obyek – pelengkap – keterangan)
   @Setiap pagi Akbar senam bersama Hana
7. S-P-O-K
 (subyek – predikat – obyek – keterangan)
   @Ono memancing ikan setiap sore
8. S-P-Pel-K
(subyek – predikat – pelengkap – keterangan)
   @Mita tertawa terbahak-bahak ketika melihat Desi tercebur ke dalam kolam ikan.
MERSIKU.JW.LT/MATERI/BAHASA_INDONESIA_10




POLA KALIMAT DASAR
  1. Kalimat Perintah
adalah suatu kalimat yang berisikan tentang perintah atau suruhan yang ditujukan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Biasanya kalimat perintah diakhiri dengan tanda baca seru (!)
Contoh : “Lita, tolong ambilkan piring !”
  1. Kalimat Berita
adalah suatu kalimat yang mengandung peristiwa atau kejadian.
Sifat kalimat berita ada dua, yaitu :
-         Ucapan Langsung : “Ibu akan pergi ke pasar sekarang” kata Ibu.
-         Ucapan Tak Langsung : “Saya bertemu dengan Ibu Lita di depan pasar tadi pagi.” Ujar Rian.
  1. Kalimat Tanya
adalah suatu kalimat yang mengandung suatu permintaan supaya kita mengetahui (diberi tahu) tentang sesuatu yang belum diketahui.
Contoh : Dimana kamu sekarang ?
LYTASAPI.WORDPRESS.COM

KALIMAT EFEKTIF
Kalimat efektif adalah kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis dan sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya di dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.
SYARAT KALIMAT EFEKTIF :
a.    Bentukan kata harus sesuai EYD
b.    Struktur kalimat tepat
c.    Kesejajaran
d.    Kontaminasi
e.    Pleonasme
f.    Menggunakan kata baku
g.    Kelogisan
h.    Selalu menggunakan EYD
A.    Bentukan kata
Salah satu penyebab kalimat tidak efektif adalah penggunaan bentukan kata berimbuhan yang tidak tepat.
Contoh:
1.    Anak-anak melempari batu ke dalam sungai.
2.    Guru menugaskan siswanya membuat karangan.
Kalimat-kalimat tersebut tidak efektif karena menggunakan kata berimbuhan yang tidak tepat. Akhiran –i pada kata melempari pada kalimat 1 membutuhkan objek yang bergerak, sedangkan akhiran –kan pada kata menugaskan membutuhkan objek yang diam.
Perbaikannya :
1.    Anak-anak melemparkan batu ke dalam sungai.
2.    Guru menugasi siswanya membuat karangan.
B.    Struktur kalimat
Penyebab lain ketidakefektifan kalimat adalah pemakaian struktur kalimat yang tidak tepat. Misalnya, penempatan subjek dan predikat yang tidak jelas.
Contoh:
1.    Di antara ketiga anaknya memiliki perbedaan sifat.
2.    Kalau lulus ujian, maka saya akan mengadakan syukuran.
Kalimat 1 tersebut tidak efektif karena tidak ada subjeknya. Subjek kalimat tersebut terganggu oleh adanya preposisi di. Sementara pada kalimat 2 induk kalimat saya akan mengadakan syukuran terganggu oleh munculnya konjungsi maka.
Perbaikannya :
1.    a. Ketiga anaknya memiliki perbedaan sifat
b. Di antara ketiga anaknya terdapat perbedaan sifat
2. Kalau lulus ujian, saya akan mengadakan syukuran.
C.    Kesejajaran
Kesejajaran berarti kesamaan bentuk kata yang digunakandalam kalimat. Bila bentuk pertama menggunakan kata kerja, bentuk selanjutnya juga harus kata kerja. Dan seterusnya.
Contoh:
1.    Tugas para pekerja itu adalah mengecat rumah, perbaikan saluran air, dan pemasangan pagar.
2.    Kegiatan hari ini adalah mengedit karangan yang masuk dan perbaikan kata-kata yang salah.
Perbaikannya :
1.    Tugas para pekerja itu adalah pengecatan rumah, perbaikan saluran air, dan pemasangan pagar.
2.    Kagiatan hari ini adalah pengeditan karangan yang masuk dan perbaikan kata-kata yang salah.
D.    Kontaminasi
Dalam bidang bahasa, kontaminasi berarti kerancuan atau kekacauan penggunaan kata, frasa, maupun kalimat.
Contoh:
1.    Di yayasan itu dipelajarkan berbagai keterampilan wanita.
2.    Kita harus mengeyampingkan urusan pribadi kita.
3.    Buku itu sudah dibaca oleh saya.
Pada kalimat 1 dan 2 terdapat kerancuan bentuk kata dipelajarkan dan mengeyampingkan sedangkan pada kalimat 3 terjadi kerancuan bentuk kalimat pasif.
Perbaikannya:
1.    a. Di yayasan itu diajarkan berbagai keterampilan wanita.
b. Di yayasan itu dipelajari berbagai keterampilan wanita.
2. Kita harus mengesampingkan urusan pribadi kita.
3. Buku itu sudah saya baca.
E.    Pleonasme
Gejala pleonasme berarti menggunakan kata-kata yang berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Contoh:
1.    Pada zaman dahulu kala, Kerajaan Majapahit sangat berpengaruh.
2.    Kesehatannya telah pulih kembali.
Kedua kalimat tersebut menggunakan kata yang berlebihan. Pada kalimat 1 kata zaman = waktu = kala, jadi cukup digunakan salah satu saja, sedangkan pada kalimat kedua kata pulih = kembali seperti semula.
Perbaikannya :
1.    Pada zaman dahulu, Kerajaan Majapahit sangat berpengaruh.
2.    Kesehatannya telah pulih.
BAHASAKUBAHASAMU.WORDPRESS.COM